PROLOGUE :

Hai, namaku Nugraha Adi Permana, S.H. aku anak ke-2 dari 3 bersaudara, aku berasal dari keluarga yang berkecukupan, ayahku bernama Ade Kustiawan Priatna, S.H. bekerja sebagai seorang Hakim dan Ibuku bernama Esih Sukaesih adalah seorang Ibu Rumah Tangga. Karena ayahku adalah seorang Hakim yang biasa bertugas berpindah-pindah tempat/kota maka aku, kakak dan adikku lahir di kota yang berbeda-beda pula. Aku lahir di kota Barabai, Kalimantan Selatan, kakakku yang bernama Fajar Destra Prayoga lahir di kota Bandung, Jawa Barat, sedangkan adikku yang bernama Destriana Melianti lahir di kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Umurku sekarang 23 Tahun, telah menyelesaikan pendidikan S1 Hukumnya di Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya dan menjalani kehidupan normal seperti halnya orang lain pada umumnya. Pada kesempatan kali ini, aku ingin membagikan cerita pengalaman hidup yang paling tidak akan bisa kulupakan seumur hidupku. Silahkan juga kalau mau menyiapkan cemilan dan minuman terlebih dahulu karena ini ceritanya lumayan panjang, selamat membaca.

CHAPTER I
THE BEGINNING OF STORY

photo_2018-12-07_10-09-52

Kisah ini terjadi pada tahun 2004 disaat umurku masih sekitar 8-9 tahun. Pada saat itu ayahku telah memasuki tahun ke-4 nya bertugas di Pengadilan Negeri Tasikmalaya setelah dimulai dari tahun 2000 hasil mutasi dari Pengadilan Negeri Jambi. Awal menetap di Tasikmalaya kami tinggal di rumah dinas yang disediakan Pengadilan Negeri Tasikmalaya yaitu di Gang Macan Jl. Siliwangi, berlokasi tidak jauh dari kantor. Namun sejak tahun 2001-2002 Ayahku membeli salah satu rumah yang hingga kini aku tempati, berlokasi di Perum Tamansari Indah Blok A No. 5. Aku sendiri di awal tahun 2004 masih bersekolah di SD Negeri Pajajaran yang berlokasi di dalam Perum Tamansari Indah, berjarak 100 meter dari rumah dan mulai memasuki semester awal di kelas 4. Kakakku mulai memasuki kelas 1 SMA di SMAN 8 Tasikmalaya, sedangkan adikku yang lahir tahun 2002  pada saat itu sudah memasuki umur 2 tahun. Di awal tahun 2004 ini juga kami sekeluarga mendapat kabar bahwa Ayahku akan kembali dipindah tugaskan/mutasi ke Pengadilan Negeri Banda Aceh. Kabar itu membuat Ayahku sedikit bingung, karena di tahun 2004 itu juga Ayahku terdiagnosa mengidap penyakit Jantung dan tengah rutin melakukan pengecekan/pengobatan ke Dokter. Lantas, Ayahku mengirim surat permohonan secara tertulis yang ditujukan kepada Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia yang pada saat itu diketuai oleh Bapak Bagir Manan. Isi suratnya memohon supaya tidak dipindahkan terlebih dahulu ke Pengadilan Negeri Banda Aceh, mengingat kondisi kesehatan yang sedang dialami tersebut. Namun takdir tuhan berkehendak lain, surat permohonan tidak diindahkan dan akhirnya Ayahku tetap dimutasikan ke Pengadilan Negeri Banda Aceh sesuai dengan ketentuan awal.

photo_2018-12-07_09-57-49Sebelum keluarga kami bertolak ke Aceh, Ayahku sempat mengatakan bahwa di Aceh nanti akan diusahakan tidak lama-lama, dan segera memohon untuk dimutasikan dalam kurung waktu 1-2 tahun kembali ke sekitaran pulau jawa, mengingat kondisi kesehatan, kakakku yang tidak ikut ke Aceh karena memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMAN 8 Tasikmalaya, dan selain itu telah melakukan pembelian rumah dan kota yang juga tidak jauh dari kampung halaman ayah dan ibuku yaitu di Ciamis, Jawa Barat. Pada tanggal 20-21 Agustus 2018 akhirnya aku, ayah, ibu dan adikku pamit meninggalkan rumah di Perum Tamansari Indah. Kakakku tinggal di Tasikmalaya ditemani oleh Ibu dari Ayahku dan Asisten Rumah Tangga yang sudah kami anggap keluarga sendiri untuk membantu mengurusi hidup kakakku selama ditinggalkan oleh kami ke Aceh. Kami berangkat menggunakan mobil pribadi dengan ditemani/disupiri oleh rekan kerja ayahku dari Pengadilan Negeri Tasikmalaya menuju ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang Banten. Aku lupa waktu berangkatnya kapan, pembelian tiket dll, yang aku ingat sampai di Bandara Soetta itu pagi hari dan berangkat menggunakan pesawat Garuda Indonesia rute Soekarno-Hatta -> Sultan Iskandar Muda dengan 1x transit di Bandara Polonia, Medan.  Perjalanan udara yang menghabiskan kurang lebih selama 4 jam dengan transit, terasa begitu lama karena aku di pesawat tidak tidur, mungkin karena aku baru pertama kali naik pesawat jadi aku ingin menikmati perjalanannya. Di dalam pesawat aku dikasih makan + snack dan aku tidak lupa bagaimana pengalaman pertamaku menggunakan lavatory/kamar kecil di pesawat untuk buang air kecil dengan didampingi oleh mbak pramugarinya, karena pada saat itu aku masih kecil jadi tidak tahu apa-apa. Sesampainya di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh. Kami telah ditunggu oleh salah satu rekan kerja baru ayahku dari Pengadilan Negeri Banda Aceh dan mengantarkan kami untuk jalan-jalan sebentar mengelilingi Kota Banda Aceh yang merupakan Ibu Kota dari Nanggroe Aceh Darussalam, termasuk melihat megahnya Mesjid Baiturahman sampai akhirnya diantarkan ke rumah dinas yang telah disediakan oleh Pengadilan Negeri Banda Aceh.

CHAPTER II
PIECES OF DAILY LIFE AND CULTURE SHOCK EXPERIENCE

Hari pertama menetap di Banda Aceh, kami tidak langsung tinggal di rumah dinas kami, namun menumpang terlebih dahulu di rumah dinas kerabat baru hakim yang bernama Bapak Yapi, kami kebetulan bertetangga karena rumah dinas Pengadilan Negeri Banda Aceh yang kami tempati terdapat 2 rumah, kalau aku tidak salah ingat alamat rumah dinas kami di sekitaran jalan Tengku Diblang – Jl. Ismail, Banda Aceh. Di hari pertama tersebut rumah dinas kami masih perlu diberekan/dibersihkan sehingga belum bisa langsung ditempati. Mengingat rumah dinas kami belum memiliki perlengkapan rumah tangga yang komplit, kami pun berangkat untuk belanja perlengkapan termasuk kebutuhanku sesuai rekomendasi dari ibuku. Di tengah sibuk berbelanja ayahku bertanya kepadaku “Adink mau beli apa lagi?” kemudian aku jawab “Pengen beli PS/Playstation”. Aku meminta beli PS tersebut bukan tanpa alasan karena sewaktu di Tasikmalaya aku juga memiliki PS 1, jadi ingin ada hiburan seperti itu lagi. Awalnya ayahku akan membelikan PS 1 namun aku pengennya PS 2 (Tahun 2004 PS 2 itu masih sangat baru) PS 2 grapiknya lebih bagus dan game-gamenya lebih seru, akhirnya tanpa debat dan pikir panjang ayahku membelikan PS 2 baru seharga kurang lebih Rp. 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah). Aku pikir sekarang kenapa ayahku pada saat itu mengabulkan permintaanku tiada lain supaya aku betah tinggal di Banda Aceh.

Kerabat Hakiindexm tetangga kami yang bernama Bapak Yapi pun jujur membuat kami sekeluarga bersyukur karena pertama datang ke Aceh langsung disambut hangat dan ramah oleh keluarga beliau. Kalau aku tidak salah ingat, Bapak Yapi juga merupakan pindahan dari Pengadilan Negeri Sumedang, Jawa Barat. Di Aceh, beliau bersama Istrinya yang kalau aku tidak salah ingat berasal dari Bogor, beserta kedua anak perempuannya, yang paling besar bernama Eriska umurnya lupa namun sekitar 12-13 tahun karena waktu itu duduk di kelas 2 SMP, kemudian anak yang paling kecil bernama Karina umurnya sekitar 7-8 Tahun, sekolah duduk di kelas 3 SD. Karina ini beda satu tahun denganku. Pada hari Senin minggu depannya aku pun mulai masuk sekolah lagi sebagai murid pindahan di Kelas 4. Sekolahku di SDN 20 Banda Aceh, satu sekolah dengan anaknya Bapak Yapi yang bernama Karina namun hanya berbeda kelas saja. SDN 20 Banda Aceh beralamat di Jl. Poecut Baren No. 67, Kampung Keramat, Mulia, Kota Banda Aceh. Ada beberapa culture shock yang aku alami selama sekolah di SDN 20 Banda Aceh, diantaranya :

  1. Pelajaran sekolah baru yaitu, Bahasa Aceh dan Bahasa Arab. Jujur, selama aku SD di Tasikmalaya sama sekali tidak pernah belajar Bahasa Aceh, kalau Bahasa Arab sedikit diajarkan namun itu juga hanya di Sekolah Agama bukan kurikulum baku pada saat itu.
  2. Ada kerohanian. Setiap sebelum pelajaran kelas dimulai, para siswa-siswi wajib membaca alquran dan membaca doa-doa, terkadang juga cerita-cerita tentang nabi dan rasul. Jadi, selama aku di Aceh sekolah itu berasa seperti gabungan antara sekolah biasa dengan sekolah agama.
  3. Rupa wajah baru teman-teman. Sebelumnya mohon maaf, aku benar-benar lupa nama teman-teman SD sewaktu di Aceh, namun dari segi fisik memang agak berbeda dengan rupa-rupa wajah orang sunda pada umumnya, yang aku ingat teman-temanku di Aceh itu memiliki wajah seperti blasteran India, Timur Tengah, Melayu dan batak.
  4. Guru-gurunya keras. This is one of the best culture shock that i’ve ever seen. Guru-guru di sana pada zamanku tidak segan menampar dan memukul muridnya jika tidak mengerjakan PR atau menghapal doa dan/atau bahasa arab. Aku masih ingat guru Bahasa Arab SDN 20 Banda Aceh pada saat itu terkenal karena paling berani “memukul” muridnya, aku bahkan pernah dengar desas-desus dari temanku bahwa guru ini pernah menampar murid kelas 6 sampai berdarah. Berbeda 180′ ketika aku sekolah di Tasikmalaya, mungkin karena budaya sunda yang sebagian besar terkenal dengan lemah lembutnya, sehingga jarang sekali menghukum murid dengan keras apalagi kontak fisik, ditambah pula kondisinya aku yang pada saat itu masih kecil.

bekas-lapak-daging-meugang-milik-dinas-koperasi-ukm-dan-perdagangan_20180719_091214Apa yang kurasakan di sekolahku pada saat itu diamini juga oleh Karina anaknya Bapak Yapi. Oleh karena itu, aku terkadang berbohong kepada ayah dan ibuku, karena dulu aku sangat bandel tidak mau sekolah alasannya karena sakit padahal sebenarnya takut bertemu dengan guru-guru tersebut. Ketika berangkat sekolah, aku seringnya menumpang/bareng dengan anak-anaknya Bapak Yapi, rute pertama biasanya mengantarkan Kak Eriska terlebih dahulu ke SMPN 9 Banda Aceh, kemudian mengantarkan aku dan Karina ke SDN 20 Banda Aceh, baru setelahnya beliau pergi ke Kantor. Sebagai info tambahan juga di Banda Aceh mulai masuk sekolah itu sekitar jam 09.00 WIB, hal ini juga yang membuatku harus menyesuaikan diri lagi karena ketika di Tasikmalaya mulai masuk sekolah itu jam 07.00 WIB. Ketika pulang sekolah, aku dan Karina terkadang pulang sendiri-sendiri namun seringnya janjian untuk pulang bareng, entah aku dulu selesai kelasnya kemudian menunggu kelasnya dia selesai ataupun sebaliknya. Jarak sekolah SDN 20 Banda Aceh pun memang tidak begitu jauh, kurang lebih sekitar 1 Km. Kita pulang biasanya naik becak motor namun sesekali juga dijemput dan diantarkan oleh rekan kerja ayahku atau ayahnya Karina dari Pengadilan Negeri Banda Aceh. Kebiasaan lainnya yang aku lakukan setelah selesai sekolah yaitu menyempatkan beli Mie Aceh asli yang kebetulan tempatnya tepat disebelah SDN 20 Banda Aceh, jadi sekalian pulang Aku sama Karina kadang mampir untuk ngebungkus 1 porsi Mie Aceh seharga kalau tidak salah Rp. 5.000. Jika aku sudah sampai rumah, adikku yang kecil selalu menungguku di depan pagar rumah, mamahku bilang “tuh Imel nunggu aa pulang katanya”. Rumah dinas Pengadilan Negeri Banda Aceh yang kami tinggali terdiri dari 1 ruangan tamu/keluarga, 3 ruangan kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 ruangan dapur/tempat masak. 3 ruangan kamar tidur tersebut tidak semua digunakan menjadi kamar tidur karena aku, ayah, ibu dan adikku istirahat di 1 ruangan kamar tidur saja, 2 ruangan lainnya kami gunakan untuk tempat sholat/ibadah dan tempat makan keluarga. Ya, memang rumahku tidak begitu besar namun tetap nyaman untuk dijadikan tempat melepas penat setelah seharian bekerja atau sekolah. Ayahku juga membeli sebuah mobil yaitu sedan toyota corrolla yang digunakan untuk bekerja maupun bepergian bersama keluarga, namun karena ayahku mengidap penyakit jantung dan sudah tidak mau menyetir mobil lagi sehingga mobil tersebut jarang dipakai, kalaupun dipakai seringnya meminta bantuan rekan kerja kantor untuk menjadi supirnya.

Kegiatan sehari-hariku pun bisa kubilang monoton, selain sekolah, belajar, main PS, makan, tidur, aku jarang melakukan aktivitas lain bahkan bermain dengan teman-teman baruku pun tidak pernah kecuali ketika berada di lingkungan sekolah. 2 bulan pertamaku di Banda Aceh (Agustus – September 2004) aku pergunakan untuk penyesuaian diriku dengan kehidupan society yang baru. Jalan-jalan bersama keluarga ketika weekend pun aku ingat-ingat jarang dilakukan, kecuali rutinitas belanja bulanan, keluarga kami selalu pergi ke pusat perbelanjaan Mall di Kota Banda Aceh. Namun bukan berarti kami tidak pernah hangout, sesekali pernah yaitu berwisata ke tempat-tempat di sekitaran kota Banda Aceh, kemudian pernah juga ke Pantai di daerah Kab. Aceh besar dan sisanya aku menghabiskan weekendku di rumah dinas saja, bermain dengan adikku yang waktu itu lagi “lucu-lucunya” dan tentunya bersama keluarga Bapak Yapi, tetangga baikku. Sebenarnya dibenak kami berkeinginan mengeksplorasi keluar kota Banda Aceh seperti ke Lhouksemawe, Bireun, Meulaboh dan lain-lain. Namun mengingat situasi dan kondisi Aceh pada tahun 2004 itu masih ditetapkan sebagai daerah operasi militer akibat konflik berkepanjangan antara TNI (Tentara Nasional Indonesia) dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang telah menimbulkan banyak korban jiwa bahkan dari masyarakat sipil. Ayahku juga sempat bercerita bahwa beliau ketika bekerja sebagai hakim di Pengadilan Negeri Banda Aceh pernah menjatuhkan vonis hukuman terhadap 2 orang terdakwa yang berasal dari GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Info yang yang aku dapatkan pula pada saat itu, katanya selain di kota Banda Aceh, akan rawan diserang oleh GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tersebut, makanya kami sekeluarga sebagai pendatang baru yang tidak tahu apa-apa lebih baik mencari aman untuk sebisa mungkin tetap bertahan di kota Banda Aceh.

Selain aku, Ibuku pun ketika di Banda Aceh mendapatkan culture shock, salah satunya adalah kewajiban untuk berhijab di jalanan bagi perempuan muslim. Bahkan ketika akan ke warung yang berjarak hanya 50 meter pun harus memakai kerudung terlebih dahulu. Ya, mungkin itu bukan sesuatu hal yang besar namun ketika di Tasikmalaya ibuku kalau hanya ke warung cukup memakai daster saja dan tidak masalah. Hari demi hari pun telah kulalui, pada tanggal 15 Oktober 2004 kami mulai memasuki bulan ramadhan dan siap menjalankan ibadah puasa, dengan hal itu aku sempat merasakan suasana bulan suci ramadhan di Kota Banda Aceh tidak jauh berbeda dengan suasana bulan ramadhan di Kota Tasikmalaya. Hal yang berbeda hanyalah dimasalah waktu, kalau sebelumnya di Tasikmalaya kami buka puasa sekitaran jam 17.30 – 18.00 WIB dan imsak sahur sekitaran jam 04.00 – 05.00 WIB. Kalau di Banda aceh untuk Imsak sahur sekitar jam 05.30 – 06.00 WIB pagi dan buka puasa sekitar jam 18.30 – 19.00 WIB. Pada saat bulan puasa keluargaku menjalani rutinitas seperti biasa, aku bersekolah dan Ayahku bekerja. Di bulan puasa tahun 2004 ini juga lah aku mulai belajar puasa full 1 hari, dan juga mulai rajin untuk ibadah solat 5 waktu. Aku memang waktu kelas 4 SD terkenal nakal, bandel kerjaannya selain sekolah kalau di rumah adalah main PS 2 terus sampai lupa waktu  solat, bahkan saking lupa solat aku sampai dipukul pakai sapu lidi oleh ayahku. Kejadian itu pertama kali buatku, dipukul oleh ayahku karena ayahku merasa bahwa aku ini sudah mulai dewasa dan mengingatkanku untuk rajin ibadah solat 5 waktu.

Di bulan puasa tahun 2004 ini juga komunikasi dengan kakak dan keluarga besar ayah dan ibuku yang berada di Tasikmalaya, Jawa Barat semakin erat, tidak hanya sekedar menanyakan kabar namun juga menanyakan sekolah, kegiatan sehari-hari sampai pembiayaan juga ditanyakan. Tak terasa 1 bulan ramadhan telah kami lalui, pada tanggal 15 Nopember 2004 kami melaksanakan ibadah solat ied di mesjid sekitaran rumah dinas kami bersama dengan keluarga Bapak Yapi. Momen lebaran pada tahun 2004 memang terasa tidak begitu ramai karena keluargaku tidak pulang ke Tasikmalaya, Jawa Barat. Memutuskan untuk berlebaran di Banda Aceh karena ingin merasakan suasana lebaran di Kota ini, bersilaturahmi dengan warga sekitar rumah dinas dan berbagi kebahagiaan satu sama lain. Lalu, di tengah-tengah kami bersantai di dalam rumah pada malam lebaran itu, kalau aku tidak salah ingat ayahku sempat curhat ingin segera pindah ke daerah pulau Jawa, bahkan ayahku bilang pada bulan Maret tahun 2005 akan mengusahakan mulai memohon untuk dimutasikan kembali. Beberapa hari kemudian, disuasana masih lebaran kami akhirnya dapat kesempatan untuk berwisata ke pantai yang kalau aku tidak salah ingat terletak di daerah kab. Aceh besar yang jaraknya tidak jauh dengan Kota Banda Aceh dan kami sekeluarga liburan menikmati indahnya pantai di sana. Tak teringat cukup jelas apa saja yang kami lakukan di sana namun yang pasti kami sangat senang akhirnya dapat kesempatan mengunjungi pantai tersebut. Bulan Nopember terasa berlalu begitu saja, kini mulai memasuki bulan Desember, bulan dipenghujung tahun 2004. Aktivitas kami di bulan Desember sama seperti bulan-bulan sebelumnya, ayahku bekerja, aku sekolah, ibuku mengurus rumah tangga serta adikku yang sudah mulai bisa lari-lari, belajar menghapal huruf dan angka, adikku sungguh lucu dan menggemaskan pada saat itu.

CHAPTER III
WHEN DISASTER HAPPENS

Pada hari Sabtu tanggal 25 Desember 2004, kami sekeluarga berlibur ke pantai ulelee yang terletak di pesisir selatan kota Banda Aceh. Pantai tersebut berjarak kurang lebih 4 KM dari rumah dinas kami. Situasi pantai ramai sekali mungkin karena hari itu bertepatan dengan hari libur natal. Aku juga tidak ingat jelas alasan ayah dan ibuku mengajakku ke pantai pada hari itu, namun sedikit yang kuingat adalah karena keluargaku memang belum pernah mengunjungi pantai itu yang terkenal akan keindahan biota lautnya. Pada hari itu juga, ayahku sempat akan mengajakku untuk pergi ke Kota Sabang dengan menggunakan kapal laut, namun karena satu dan lain hal, kami mengurungkan niat untuk pergi ke Sabang, padahal aku ingin sekali ke sana apalagi sabang merupakan kota terakhir diujung barat Negara Indonesia, pikirku saat ini. Di penghujung kunjunganku di pantai ulelee, di pinggir pantai aku tepat duduk disebelah ayah, ibu dan adikku bersama-sama menikmati santapan mie ayam dan jajanan khas Aceh lainnya dengan posisi duduk langsung menghadap ke arah bibir pantai. Setelah itu, hari sudah menjelang sore dan kami pun bergegas untuk pulang ke rumah dengan raut wajah kami yang senang dan gembira .

Keesokan harinya, hari  Minggu tanggal 26 Desember 2004. Tanpa ada sedikit firasat apapun seperti biasa di pagi hari kami selalu bangun sekitar jam 05.00 – 06.00 WIB (adzan subuh nya jam 05.00). Setelah kami selesai menunaikan ibadah solat subuh, dan mengingat juga pada saat itu hari minggu jam 06.30 WIB sehingga ayah, ibu dan adikku tidak melakukan aktivitas apa-apa, masih bersantai di atas tempat tidur sembari ngobrol-ngobrol pagi, sedangkan aku pagi hari itu langsung bermain PS 2 dan aku masih ingat game yang aku sedang tamatkan pada saat itu adalah Dragonball z budokai 3. Ayah dan Ibuku tidak menegor, hanya suara ibuku saja yang terdengar dari dalam kamar  bilang “kalau mau main PS mah mending mandi dulu” namun sayang aku tidak menuruti perintahnya. Cuaca pada pagi hari itu tidak terlalu cerah, hanya berawan saja. Aku bermain game pagi itu cukup lama sekitar 1 jam an, ayah, ibu dan adikku juga masih berada di kamar belum melakukan aktivitas apa-apa, ya karena memang pada saat itu bisa dibilang masih sangat pagi.  Kemudian, sekitar jam 07.30 – 07.50 WIB, aku yang sedang bermain PS 2 serta ayah, ibu dan adikku yang masih bersantai di kamar tidur dikejutkan dengan grrrrr….. Goncangan gempa yang sangat kencang, kami semua pun langsung berlarian ke halaman rumah, disebelah pun terlihat keluarga Bpk Yapi, Ibu yapi dan kedua anak perempuannya berlarian ke halaman rumah, karena memang halaman rumah dinas kami cukup luas sehingga aman untuk tempat berlindung. Gempa yang bukannya semakin lama semakin mereda ini malah semakin kencang sehingga goncangan gempa yang aku rasakan bukan hanya ke kiri dan kanan tapi ke atas – bawah juga, berasa seperti akan dijungkirbalikan, alhasil untuk berdiri pun tidak mampu sehingga yang kami semua lakukan pada saat itu adalah jongkok dengan memegang tanah dan/atau pagar rumah. Goncangan Gempa dahsyat itu berlangsung lama sekitar 5-10 menit, setelah gempa mulai berhenti, kami yang sedikit pusing mulai melihat sekitar dan puji syukur alhamdulillah rumah dinas kami dan bapak Yapi tidak roboh, begitu juga rumah disekitaran, kami lihat juga tidak ada kerusakan yang signifikan. Namun kami semua tidak serta merta kembali masuk ke dalam rumah, hanya ibuku dan ibu yapi yang masuk ke rumah masing-masing melihat kondisi dan memang banyak barang berceceran jatuh ke lantai, bahkan ibu Yapi sempat bilang bahwa komputer semua di rumahnya pada jatuh. Nah, untuk keluarga bapak Yapi sendiri pada saat terjadi gempa tidak lengkap karena bapak Yapi nya seingatku sedang olahraga di luar rumah sehingga Ibu Yapi pada saat itu langsung menelpon beliau untuk segera pulang ke rumah.

Sembari menunggu kedatangan bapak Yapi ke rumah, dan gempa yang juga sudah berhenti akhirnya kami semua pun mulai masuk rumah dan aku melihat PS dan TV ku masih menyala dengan baik (ternyata gempa sedemikian dahsyat tidak membuat listrik padam pada saat itu) namun yang aku lakukan adalah beres-beres rumah yang berantakan akibat gempa. Di saat Aku, ayahku dan adikku masih sibuk dengan beres-beres rumah, ibuku sempatnya mandi namun tetap sambil bilang ke kami “Kalau ada gempa lagi, cepet kasih tau”, setelah itu sampai ibuku selesai mandi pun ternyata tidak ada gempa yang terasa. Selang jarak waktu sekitar 10-15 menit dari gempa awal berhenti, aku, ayah, ibuku yang baru beres memakai baju dan adikku dari dalam rumah mendengar dan melihat mulai banyak orang di jalan raya depan rumah, sambil mayoritas orang-orang itu berteriak “ayo lari-lari, air laut naik”, sungguh pada detik itu juga kami semua dilanda kebingungan, apa maksud dari “air laut naik” itu? kemudian ayahku langsung bergegas ke depan rumah sambil menanyakan kepada orang-orang di jalan raya, “pak, ada apa ?” tanya ayahku. Kemudian salah satu dari mereka menjawab “itu air laut naik pak, naik tinggi banget, ayo lari pak” aku ingat jawaban si bapak itu yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek dengan raut wajah yang terlihat sangat ketakutan, selain itu sesekali terdengar juga takbir dan ucapan doa dari orang-orang tersebut. Kami pun langsung melihat ke arah berlawanan dari orang-orang yang berlarian yaitu ke arah pantai ulelee, pada saat itu memang tidak terlihat apa-apa selain hanya segerombolan orang-orang yang sedang berlarian. Pada momen seribu kebingungan itu, keluargaku begitu juga dengan Istri dan ke 2 anak perempuan pak yapi masih berada di halaman rumah tidak ikut lari seperti yang lainnya, apalagi keluarga Ibu yapi dan anak-anaknya itu masih menunggu kedatangan pak Yapi yang kata si Ibunya sedang di jalan pulang ke rumah. Suasana jalan raya saat itu benar-benar sangat semrawut oleh orang-orang yang berlarian, laki-laki, perempuan, anak-anak semua ada, dan akhirnya 1 menit kemudian pak Yapi datang juga dengan menggunakan mobil yang kalau aku tidak salah ingat adalah mobil kijang. Pak Yapi sempat keluar mobil sebentar sambil menceritakan kondisi-kondisi yang kalau aku tidak salah ingat katanya “mall (tempat biasa keluargaku belanja bulanan) hancur total” terus SDN 20 Banda Aceh (tempatku sekolah) juga roboh” dan juga air laut naik ke darat. Setelah mendapatkan info tersebut tidak lama kemudian keluargaku dan keluarga pak yapi langsung naik mobil kijang tersebut untuk ikut melarikan diri, posisi duduknya di mobil yang 3 seat seingatku pak Yapi yang menyetir bersama ayahku di depan, di tengah ada ibuku sambil menggendong adikku, Ibu yapi dan ke 2 anak perempuannya, kemudian dijok paling belakang ada aku. Pada saat kami menaiki mobil, kami semua tidak ada yang melihat ke arah belakang, inginnya pergi secepat mungkin dari sana, namun karena situasi jalan yang begitu ramai oleh orang-orang yang berlarian sehingga mengakibatkan mobil yang kami tumpangi tersebut tersendat. Ketika momen mobil tersendat itulah aku melihat kebelakang dari jendela mobil…dan ternyata wusssss dari jarak sekitar 200 meter terlihat pemandangan mengerikan berupa gelombang air tsunami yang bergerumuh keras bersama dengan intensitas/volume kecepatannya tinggi. Aku melihat dengan mata telanjang air itu seolah-olah melahap segala sesuatu yang dilaluinya, dinding rumah seketika hancur, pohon tumbang, tiang listrik roboh karena saking kuatnya kekuatan air itu. Aku juga melihat air tsunami itu berwarna hitam pekat dengan pusaran gelombangnya terdapat segumpalan campuran sisa-sisa bangunan, sampah, pohon dan lain-lain. Seisi mobil yang kami tumpangi pun akhirnya menyadari bahwa air sudah berada sangat dekat di belakang mobil kami, kami pun bersamaan teriak “ayo pak cepat, cepat!” namun yang terjadi mobil kami bukan semakin cepat malah semakin lambat karena di depan kami orang-orang di jalanan sangat ramai berlarian menutup laju mobil kami.

Ketika kami sadar bahwa melarikan diri dengan mobil sudah tidak lagi efektif, kami semua bersamaan bilang “keluar-keluar!” kami di dalam mobil pun mulai beranjak termasuk aku di jok paling belakang sudah dalam posisi berdiri bersiap untuk keluar, namun sebelum berhasil keluar mobil, sesuatu terjadi…braakkkkkk tiang listrik yang ada di sebelah kanan mobil kami roboh menghantam bagian atap belakang mobil sampai penyok, hantaman tiang listrik itu tepat di atas kepalaku membuatku kena benturan cukup keras di bagian pangkal atas-belakang  kepalaku, beruntungnya tidak sampai berdarah, yang kurasa pada saat itu hanya sakit dan sedikit pusing namun masih sadar dan bisa melihat dengan jelas. Sekarang aku bersyukur bahwa tiang listrik yang roboh itu tidak sampai merobek mobil, andaikan sampai merobek menembus dalam mobil besar kemungkinannya aku tidak akan selamat pada saat itu. Setelah tiang listrik yang roboh itu mengagetkan kami, akhirnya kami tetap berhasil keluar dari dalam mobil. Namun disaat aku keluar dari mobil itulah………. momen dimana aku berpisah dengan ayah, ibu dan adikku, karena pada saat keluar mobil aku langsung lari tanpa mencari/melihat dimana dan kemana ayah, ibu dan adikku berlari. Aku ingat apa yang kurasakan pada saat itu adalah takut, panik, bingung, degdegan semua bercampur aduk ditambah pula ingat aku dulu masih seorang bocah berumur 9 tahun jadi benar-benar masih sangat polos. Jujur pada saat itu aku sama sekali tidak memikirkan kondisi ayah, ibu dan adikku, yang kupikirkan hanyalah bagaimana aku bisa lari sekencang mungkin menjauh dari kejaran air tsunami yang ketika aku keluar dari mobil sudah semakin dekat dibelakangku. Situasi jalan pada saat itu masih ramai oleh orang-orang yang juga berlarian. Dari mobil aku langsung berlari mengikuti ke arah mana kebanyakan orang berlari, awalnya aku lari ke depan menjauh dari kejaran air tsunami, setelah lari sekitar 20 meteran aku lihat orang-orang banyak berlari belok ke arah kanan, akhirnya akupun mengikuti mereka, dan karena aku larinya belok ke kanan bukan lurus ke depan sehingga malah “membelah” dari kejaran air Tsunami sehingga aku pikir tinggal menunggu waktu saja aku terhempas. Benar saja kurang lebih di jarak sekitar 50 meteran aku lari, begitu sampai di area lapangan, air tsunami menghempas aku dari samping kanan, aku pun hanyut ke arah kiri dengan tinggi air sekitar kurang lebih 1- 2 meter lebih, aku terbawa arus dengan sesekali tenggelam/luput bahkan sempat tersedak karena menelan air tsunami dan rasanya asin seperti air laut pada umumnya namun warnanya sudah hitam pekat. Akhirnya, entah takdir tuhan atau karena posisi hanyutku yang beruntung, aku hanyut sekitar 1 menitan ke arah kiri yang kebetulan di arah kiriku itu ada rumah berlantai 2, aku hanyut pas masuk ke dalam garasi rumah itu, aku lantas berusaha menggapai lantai garasinya dan akhirnya aku berhasil keluar dari hanyutan air tsunami yang seakan-akan mencengkrami seluruh tubuhku itu. Jujur ketika hanyut pada saat itu hanya bisa pasrah kemana aku akan dibawanya karena intensitas air nya deras dan tinggi, beruntung juga selama aku hanyut tidak tertimpa reruntuhan bangunan atau benturan benda-benda lainnya. Begitu aku menaiki garasi aku langsung menuju ke lantai 2 dan ternyata di atas sana sudah banyak orang yang berlindung. Aku langsung menuju ke arah halaman lantai 2 rumah tersebut melihat ke bawah dengan mata kepalaku sendiri mendapati sebuah kondisi yang sungguh mengerikan, sejauh mata memandang semua bangunan rata oleh air tsunami, orang-orang disekitarku ibu-ibu, bapak-bapak semua menangis, tiada henti mengucapkan takbir bahkan ada juga orang yang menaburi sesuatu dari lantai 2 sambil membaca doa-doa.

Firefox_Screenshot_2018-12-04T02-01-34.942Z
Roadmap by Nugraha Adi Permana

Aku yang mulai menyadari apa yang terjadi, di lantai 2 rumah itu aku mulai berteriak “mah, pah, mah, pah” terus menerus memanggil ayah dan ibuku. Namun tak ada jawaban atas panggilanku itu, aku pun tersadar ayah dan ibuku tidak ada di tempat itu. Setelah aku mulai menangis karena tidak ada jawaban dari ayah dan ibuku, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang memanggil dari arah depanku “adek, adek kesini” panggil si bapak itu. Aku pun menghampirinya, “adek yang di rumah itu ya? bapak sering lihat keluarga adek” bilang si bapak itu. Ya dan ternyata bapak itu adalah tetanggaku, rumahnya berada persis di depan rumah dinasku. Bapak itu di sana bersama istri dan anak-anaknya. Aku yang pada saat itu sebatang kara tidak mempunyai siapa-siapa akhirnya aku berlindung sejenak bersama keluarga si bapak itu (mohon maaf aku lupa nama bapaknya). Sembari menunggu air surut Bapak itu bilang bahwa tadi sempat melihat ayah, ibu dan adekku kalau mereka selamat naik ke atas genteng sebuah rumah. Mendengar apa yang dikatakan bapak itu membuatku cukup lega karena ternyata keluargaku selamat. Di saat air tsunami masih menggenang dan gempa bumi susulan terus menerus terjadi dengan guncangan cukup kencang, membuat kami semua panik dan tidak henti terus melantunkan takbir. Tak terasa hari sudah memasuki siang hari, cuaca masih berawan dan langit tidak menampakan cahayanya, kami semua sudah kelaparan dan para warga di lantai 2 rumah itu mulai pergi menelusuri atap-atap rumah lainnya karena ternyata banyak makanan ringan berserakan seperti ciki, makroni bungkus, wafer, biskuit, minuman botol. Tidak ada jalan lain, makanan yang mungkin jika dalam situasi normal sangat jorok dikonsumsi namun karena kondisi darurat makanan dan minuman itu bak makanan mewah bagi kami. Dengan sedikit pembersihan dari kotoran/lumpur makanan dan minuman itu pun disajikan buat orang-orang disekitarku untuk sekedar mengganjal perut. Setelah kami menyantap makanan ringan seadanya, orang-orang disekitar lalu menjalankan ibadah solat dzuhur berjamaah, doa-doa pun tiada henti dipanjatkan semata-mata untuk meminta perlindungannya bagi kami, saudara-saudara kami dan keluarga-keluarga kami.

Sekitar pukul 14.00 – 15.00 WIB air tsunami sudah mulai surut kembali ke arah laut, aku juga sudah mulai melihat orang lalu lalang kesana-kemari seperti sedang mencari kabar dari orang-orang yang mereka sayangi. Kemudian, ada arahan dari salah satu orang ditempatku yang mengatakan bahwa kita harus segera pindah menuju ke posko terdekat yaitu di kantor Polda Banda Aceh. Jarak dari rumah lantai 2 itu ke Kantor Polda Banda Aceh terbilang cukup dekat yaitu sekitar 1-2 km. Karena akses jalan depan tertutup oleh sisa-sisa bangunan dan sampah tsunami akhirnya Kami menuju ke arah belakang dengan menuruni atap-atap rumah terlebih dahulu untuk menggapai jalan Syiah Kuala (cek gambar roadmap di paragrap sebelumnya). Dengan hanya berjalan kaki dengan tanpa alas apapun aku bersama keluarga “bapak” beserta rombongan pengungsi lantai 2 rumah itu langsung bergegas menuju ke kantor Polda Banda Aceh, karena menurut kami akan lebih aman jika berdiam di sana, selain itu kami juga takut air laut naik kembali ke daratan. Di sepanjang jalanku menuju ke Polda Banda Aceh aku lagi-lagi mendapati pengalaman yang mengerikan, ya di setiap meter langkah kakiku aku menemukan mayat-mayat manusia dalam kondisi yang mengenaskan, dari mulai tertimpa pohon, tertimpa bangunan, posisi tergeletak, telungkup maupun hanya berupa potongan-potongan tubuh yang berserakan di sepanjang jalan menuju Polda Banda Aceh tersebut. Sebagian besar mayat-mayat tersebut sulit dikenali karena telah berwarna abu-abu semu hitam, mungkin karena tergulung air tsunami yang telah tercampur lumpur maupun bahan-bahan lainnya. Tak ada yang bisa kami lakukan saat itu, aku dan rombongan hanya melewati begitu saja tanpa melihat secara detail siapa mayat-mayat itu. Ketika berjalan aku juga tiada henti berharap untuk dapat bertemu kembali dengan ayah, ibu dan adikku yang menurut si “Bapak” itu “selamat”, namun sayang setibanya kami di Polda Banda Aceh pun aku belum menemukan keluargaku. Jam pun menunjukan pukul 17.00 WIB aku lihat langit gelap, mendung kemudian hujan pun turun ditambah dengan listrik yang padam mengakibatkan suasana pada saat itu mencekam, Banda Aceh benar-benar lumpuh total ! Posisi Kantor Polda Banda Aceh itu seingatku adalah titik dimana ujung gelombang tsunami itu berhenti sehingga tsunami yang menghantam kantor itu kecil/tidak menimbulkan kerusakan parah. Di saat kami menunggu arahan selanjutnya dan pengungsi yang berkumpul semakin banyak, aku sempat kesal pada “oknum-oknum” karena ada aja orang yang menebar hoax bahwa “air laut naik lagi” yang membuat kami semua panik berlarian, padahal nyatanya tidak terjadi apa-apa. Akhirnya sekitar jam 19.00 – 20.00 WIB aku bersama keluarga “si Bapak” dan rombongan pengungsi lainnya diungsikan dengan menggunakan mobil kap menuju ke dataran tinggi yang lebih aman dan kalau aku tidak salah ingat daerahnya di sekitar kantor TVRI Aceh, Kab. Aceh Besar. Perjalanan ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 30 menit, aku lupa jam nya kapan namun yang pasti aku sampai di tempat pengungsian yang lebih aman itu malam hari. Sesampainya di sana aku dan rombongan lainnya dimasukkan ke rumah-rumah warga yang pada saat itu dijadikan tempat pengungsian sementara. Sebagai info, tempat pengungsian sementaraku itu tidak terkena tsunami karena berada jauh dari pantai (dataran tinggi) jadi kondisi rumahnya masih bagus dan juga aliran listrik yang tidak padam, hanya kebutuhan air bersih yang sulit karena pipa PDAM untuk seluruh aceh telah rusak. Aku yang pada saat sampai ke pengungsian sudah dalam kondisi lelah, sehingga tidak sempat banyak beraktivitas dan memilih untuk langsung tidur diamparan karpet seadanya bersama keluarga “si bapak” dan pengungsi lainnya.

CHAPTER IV
AFTER DISASTER – FROM EVACUATION PLACE WITH HOPE

Keesokan harinya, Hari senin tanggal 27 Desember 2004. Aku bangun tidur sekitar jam 07.00 WIB, dimana ketika aku bangun, matahari telah menyinari cahayanya. Pagi itu cuaca di Aceh memang cukup cerah, aku juga sempat makan seadanya itu pun dibagi-bagi dengan keluarga si “Bapak” karena kebetulan di pengungsianku terdapat dapur umum yang dikelola oleh warga sekitar untuk membuat makanan bagi kami, para pengungsi. Air di tempat pengungsian ku tidak mengalir, adapun air hanya di beberapa tempat itu pun sedikit, hanya dipergunakan untuk membuat makanan dan minuman. Setelah makan aku tidak banyak melakukan aktivitas, aku hanya duduk dan terdiam sembari memikirkan dimana dan sedang apa ayah, ibu dan adikku. Gempa bumi yang kupikir sudah berhenti total ternyata masih menyerang kami, walaupun sudah lewat satu hari gempa masih terasa dengan guncangan yang lumayan besar, namun kami di pengungsian mencoba untuk tetap tenang. Sekitar jam 15.00 WIB, ketika aku sedang berada di dalam rumah pengungsian tiba-tiba si “Bapak” dari depan pintu memanggilku “adi sini, ada yang mencari kamu” wah kupikir dalam hati pada saat itu siapa yang mencariku? apakah ayah dan ibuku? aku pun langsung menghampiri si “Bapak” itu dan ternyata yang mencariku adalah…….. Ibu Yapi dan anak perempuannya yang ke -1 yaitu kak Eriska (12-13th), aku yang melihat Ibu Yapi bak melihat Ibuku langsung memeluknya dan kami pun saling berpelukan. Ibu Yapi yang melihatku pun bilang “Ya allah, alhamdulilah kamu selamat, di, ada yang luka ga?” Aku bilang “ga ada bu”, setelah itu aku juga sempat bertanya “Bapak sama karina (Anak perempuan ke-2), gimana?” Ibu yapi menjawab “Kita juga tidak tahu, makanya sekarang ini lagi cari-cari info”, Bu yapi bertanya balik “Kalau papah, mamah, sama adek, gimana di?” aku jawab lagi ” Sama bu, adi juga tidak tahu”. Kemudian Bu Yapi menenangkan kami semua “Yaudah yu tenang kita sekarang sama-sama cari, berdoa semoga keluarga kita segera diketemukan”. “Bagai menggapai secercah cahaya di dalam kegelapan” itulah kalimat yang bisa ku rasakan setelah bertemu dengan Ibu Yapi dan anaknya di pengungsian itu, aku yang tidak tahu harus kemana, bagaimana dan dengan siapa seolah mendapat sebuah tuntunan jalan. Selama di pengungsian aku pun tak pernah lepas dari genggaman tangan dan pandangan mata Ibu Yapi dan Kak Eriska yang pada saat itu sudah kuanggap sebagai Ibu dan kakakku sendiri. Makan, minum kami bagi bertiga, begitu juga tempat tidur yang kami tempati bergantian terus menerus selama 4 hari di pengungsian. Kalau aku tidak salah ingat di pengungsian itu kami tinggal sampai Hari Kamis tanggal 30 Desember 2004. Pada hari Kamis tanggal 30 Desember 2004, kami belum juga mendapatkan kabar keberadaan dari ayah, Ibu dan adikku maupun dari Bapak Yapi dan Anaknya yang bernama Karina (7-8th). Kebetulan pada Hari Kamis itu ada pemberangkatan pengungsi yang ingin ke Medan dengan menggunakan mobil Tentara/TNI, mobil itu sebenarnya digunakan untuk mengirim bantuan makanan, minuman, dan obat-obatan dari Medan ke pengungsian kami, namun ketika mobil ini hendak pulang ke Medan dan para pengungsi yang ingin menumpang ke Medan, diperbolehkan ikut. Ibu Yapi pada saat itu bilang “kalau kita ke Medan mungkin akan lebih mudah mencari Informasi dengan meminta bantuan ke Pengadilan Tinggi Medan”, akhirnya aku, Ibu Yapi dan kak Eriska pada jam sekitar 17.00 WIB diberangkatkan menggunakan mobil tersebut bersama para pengungsi lainnya dari rumah pengungsian menuju ke Medan.

Perjalanan darat dari Aceh ke Medan pada waktu itu ditempuh dengan waktu sekitar 9-10 jam. Di sepanjang 1-3 jam perjalanan awal, kami mau tidak mau menghirup udara yang beraroma busuk dari mayat-mayat karena mobil yang kami tumpangi melewati daerah-daerah dimana mayat korban tsunami akan dikubur masalkan/masih belum dievakuasi. Aku tidak ingat berapa orang yang berada di dalam mobilku,  namun yang kuingat ada 2 orang tentara bersenjata lengkap yang bersiaga di belakang mobil kami. Mobil yang berangkat pun berkonvoi dengan jumlah yang kalau aku tidak salah ingat ada 5 mobil. Di beberapa tempat sepanjang perjalanan pun para tentara di mobilku ini bersiaga dengan senjatanya karena ternyata tempat yang kami lalui pada saat itu merupakan tempat rawan konflik/penyerangan kelompok GAM (Gerakan Aceh Merdeka), namun puji syukur alhamdulillah selama 9 – 10 jam perjalanan kami dilindungi dan dilancarkan tanpa ada gangguan yang kami takutkan sebelumnya. Jumat dini hari kami sampai di lokasi pengungsian sementara berikutnya di Kota Medan, yaitu di sebuah bangunan berlantai yang belum selesai pembangunannya. Karena kondisi kami yang sudah lelah, akhirnya aku, Bu yapi dan kak Eriska langsung beristirahat dengan hanya beralaskan koran dan kardus bersama ratusan pengungsi lainnya. Sekitar jam 12.00 WIB aku masih di pengungsian dan bertemu dengan utusan dari Pengadilan Tinggi Medan yang sedang meninjau lokasi pengungsian untuk mencari kerabat/keluarga hakim Pengadilan Negeri Aceh, sembari menunggu kabar selanjutnya, aku pada saat itu sedang bersiap untuk melaksanakan ibadah sholat jumat di mesjid dekat lokasi pengungsian. Setelah solat Jumat, sekitar jam 13.00 WIB aku, Ibu Yapi dan kak Eriska diantarkan oleh utusan Pengadilan Tinggi Medan ke Kantornya terlebih dahulu untuk melapor. Sesampainya di kantor kami pun di data, dan setelah dari sana kami diberikan tempat tinggal sementara dengan menginap di rumah Bapak Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Medan (mohon maaf aku lupa lagi namanya) sampai menunggu informasi mengenai keluargaku dan keluarganya Bu Yapi yang masih belum ditemukan. Di Rumah Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Medan itu kami dibelikan salinan baju sehingga kami terlihat rapi kembali. Kami pun istirahat bersama dalam 1 kamar yang telah disediakan, dan di malam yang sunyi ternyata aku sering mengigau/mimpi aneh ketika sedang tidur, itulah yang disampaikan Ibu Yapi maupun kak Eriska. Aku tidak tahu mengapa bisa sering mengigau begitu, namun kemungkinan besar karena efek dari kejadian yang aku alami.

Keesokan harinya pada hari Sabtu, tanggal 01 Januari 2005, alhamdulilah tahun telah berganti, namun kami tidak merayakan sama sekali mengingat kejadian pilu yang masih menghantui kami. Doa yang terbaik tentunya mengiringi harapan kami kedepannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik lagi. Hari itu memasuki akhir pekan dan kalau aku tidak salah ingat kami di ajak jalan-jalan oleh keluarga bapak Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Medan mengelilingi kota Medan sambil tentunya terus update informasi mengenai keberadaan ayah, ibu, adikku, Bapak yapi dan Karina yang belum juga ditemukan. Namun sayang hari itu dilalui nihil informasi. Keesokan harinya pada hari Minggu, tanggal 02 Januari 2005, kalau aku tidak salah ingat pada malam harinya Bu Yapi mendapat update informasi bahwa suaminya/Pak Yapi telah ditemukan selamat namun dalam keadaan sekitar kaki-paha robek dan sekarang sedang menuju ke salah satu rumah sakit di Medan untuk dilakukan operasi. Keluarga Bu Yapi mensyukuri kabar tersebut, sedangkan update informasi mengenai ayah, ibu dan adikku masih juga nihil, begitu juga dengan anak perempuan ke-2 bu Yapi yang bernama Karina belum juga ditemukan. Disamping kabar tersebut, ternyata ada salah seorang kerabat hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh lainnya yang selamat bernama bapak Gunawan yang berencana pulang ke pulau jawa/Bandung. Nah ketika itu aku diberikan pilihan apa aku tetap di Medan atau ikut pulang bersama beliau, karena keluarga Bu Yapi maupun Pengadilan Tinggi Medan mengetahui bahwa aku mempunyai keluarga besar di Kota Tasikmalaya. Mereka bilang walaupun nanti aku pulang, informasi tetap akan disampaikan, begitu juga saran Ibu Yapi pada saat itu lebih baik aku pulang menemui keluargaku di Tasikmalaya. Setelah aku sepakat akan pulang ke Tasikmalaya bersama dengan pak Gunawan, aku berinisiatif untuk menelpon dulu rumahku yang berada di Tasikmalaya. Di rumah Bapak Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Medan itu kebetulan ada telepon rumah dan beruntungnya aku masih ingat nomor telepon rumahku yang di Tasikmalaya (0265) 323343. Aku pun meminta izin ke pemilik rumah dan diperbolehkan. Nah, untuk memudahkan pembaca membacanya maka aku disini diwakili oleh huruf “A” dan penerima telepon diwakili oleh huruf “P”. Pembicaraan yang terjadi kurang lebih seperti berikut :

A : Halo, Assalamualaikum ?
P : Walaikumsalam, iye sareng saha (ini dengan siapa)? *kalau aku tidak salah ingat yang menerima teleponku pada saat itu adalah kakakku Fajar Destra Prayoga*
A : Iye Adink a (ini adink kak). *adink nama panggilanku di keluarga*
P : Adink? kela-kela adink saha? (adink? sebentar, ini adink siapa?) *setelah itu terdengar dari teleponku kalau suara kakakku mulai rame oleh suara lain, mungkin keluargaku yang lain*
A : Adink a Nugraha Adi Permana
P : Kela-kela ai Adink teh putra saha? *masih tidak percaya*
A : Putrana pak Ade Kustiawan Priatna. (Anak dari bapak Ade Kustiawan Priatna)
P : Ai mamah saha namina? (kalau ibu siapa namanya?) *Masih ragu*
A : Mamah, Esih Sukaesih.
P : Gaduh adek kan tah adek teh saha namina? (Punya adek kan, nah Kalau adik siapa namanya?)
A : Muhun gaduh, namina Imel a, Destriana Melianti. (iya punya, namanya imel, Destriana Melianti).
P : Cik ai liburan th biasana kamana? nenek, kakek (kalau liburan biasanya kemana?)
A : Enin, aki a di Cijulang, pangandaran.
P : Hmm.. ya allah alhamdulillah yeuh budak salamet (hmm alhamdulilah anak ini selamat) *terdengar ada yang nangis juga, mengucap syukur*
A : Muhun a (iya a).
P : Adink dimana iye, sareng saha? (adink ini dimana, sama siapa?)
A : Adink di Medan a, sama Ibu Yapi di rumah Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Medan.
P : Oh ya keun ath syukur alhamdulilah, gening teurang nomor rumah iye? ai papah, mamah, imel mana? (oh iya syukur alhamdulilah, tahu nomor rumah ini, kalau ayah, ibu, adek dimana?)
A : Muhun teurang nomorna gampil diinget a, oh eta mah teu acan teurang a, tapi saurna mah salamet da. (Iya tau nomornya mudah diingat kak, kalau itu Belum tahu kak, tapi katanya sih selamat).
P : Oh ya keun terus ayeuna kumaha, bade pulang kadieu moal? (oh iya, terus sekarang gimana, mau pulang kesini ngga?)
A : Muhun bade, justru bade ngabari, adink mau pulang lusa besok ke Tasik sareng rerencangan papah namina pak Gunawan. Nanti saurna bade diinfokeun deui, nomor rumah iye tos di save da kangge informasi selanjutnya ti dieu (iya mau kak, justru ini mau kasih kabar, pulang besok lusa, sama temen papah namanya pak Gunawan. Nanti mau dikabari kak solnya nomornya udah di save kok buat informasi selanjutnya dari sini)
P : Oh ya sok atuh, hati-hati di jalan. (Oh iya, hati-hati di jalan)

Begitu kira-kira garis besar percakapan kami pada saat itu, dan aku pun baru tahu sekarang kenapa keluargaku yang di Tasikmalaya awalnya ragu ketika yang menelepon itu adalah aku, karena ternyata ketika bencana alam Gempa dan Tsunami melanda Aceh pada hari Minggu tanggal 26 Desember 2004, semua orang yang berada di Banda Aceh langsung tidak bisa dihubungi sama sekali, jaringan komunikasi terputus total dan melihat dari berita begitu dahsyatnya bencana itu serta jumlah korban hingga ratusan ribu jiwa meninggal dunia. Sehingga keluargaku pada saat itu pasrah dan menganggap  aku, ayah, ibu dan adikku telah meninggal semua, bahkan namaku juga sempat diumumkan telah meninggal dunia akibat bencana alam di toa mesjid Perum Tamansari Indah. Kembali lagi ke cerita, setelah aku menelepon mengabari keluargaku di Tasikmalaya aku pun mulai mempersiapkan diri untuk pulang. Keesokan harinya pada hari Senin, tanggal 03 Januari 2005 aku sudah dipesankan tiket pesawat bersama dengan Pak Gunawan di bandara Polonia Medan. Namun sebelum pulang ke Tasikmalaya, siang harinya aku sempat menemani bu Yapi dan kak Eriska menjenguk Pak Yapi di salah satu rumah sakit di Medan. Puji syukur kabarnya pak Yapi mulai membaik, namun tetap anaknya yang bernama Karina (7-8th) saat itu masih belum ada kabar, begitu juga ayah, ibu dan adikku. Setelah dari rumah sakit aku pun berpamitan kepada Bu Yapi dan kak Eriska untuk pulang ke Tasikmalaya. Bu Yapi dan kak Eriska saat itu memilih tetap di Medan menunggu pulihnya pak Yapi sembari tetap update informasi mengenai anaknya 1 lagi yang belum diketemukan dan juga informasi mengenai ayah, ibu dan adikku. Kemudian, pada sore harinya sekitar jam 16.00-17.00 WIB aku diantarkan oleh mobil Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Medan menuju ke Bandara Polonia, di sana aku telah ditunggu oleh bapak Gunawan, setelah serah terima terjadi, aku pamit kepada keluarga Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Medan. Aku pun sekarang tinggal berdua saja dengan bapak Gunawan menunggu boarding pesawat yang aku ingat sempat delay, sehingga aku mulai berangkat itu ketika hari sudah gelap sekitar jam 18.00 – 19.00 WIB. Perjalanan udara ditempuh selama kurang lebih 2 Jam 50 menit, seperti biasa aku kalau di dalam pesawat susah sekali tidur, apalagi di penerbangan malam hari itu membuat telingaku kebisingan, akhirnya 2 jam lebih perjalanan itu aku hanya terjaga, mata tertutup namun tidak lelap tidur. Sesampainya di bandara Soekarno-hatta kami telah ditunggu oleh seseorang yang aku lupa siapa dan darimana, namun sepertinya tidak jauh dari rekan-rekan hakim ayahku di pengadilan. Sebelum pulang, kami makan malam terlebih dahulu dan aku ingat pada saat itu aku memesan makanan spaghetti. Setelah selesai makan malam, aku dan bapak Gunawan diantar pulang menumpang menginap malam itu di rumah salah satu rekan yang menjemput kami di Bandara. Keesokan harinya, pada hari Selasa, tanggal 04 Januari 2005 jam 05.00 WIB aku bangun pagi untuk menunaikan ibadah solat subuh, sekaligus siap-siap untuk berangkat. Sekitar jam 06.00-06.30 WIB disaat aku masih santai di kamar tiba-tiba masuk anak-anak dari pemilik rumah ingin berkenalan, yang pertama perempuan aku lupa namun sepertinya seumuran karena memakai celana SD, dia memberiku mainan yang juga aku lupa bentuknya, dan yang kedua anak laki-laki, SMA dia memberiku nintendo gameboy. Pada saat itu aku senang sekali dan mengucapkan terima kasih, lalu mereka semua keluar kamar.

Pada jam sekitar 07.30 – 08.00 WIB aku dan bapak Gunawan dibawa terlebih dahulu ke sebuah kantor di Jakarta yang aku lupa kantor apa namun seingatku membawa orang-orang yang ingin ikut mengantarkanku pulang ke Tasikmalaya, dan salah satunya yang aku ingat betul adalah ibu Artha Theresia Silalahi yang merupakan hakim juga teman ayahku, beliau adalah kakak kandung dari Rosiana Silalahi yang pada saat itu merupakan presenter/reporter/News Anchor di SCTV. Sekitar jam 10.00 WIB kami pun berangkat dari Jakarta menuju ke Tasikmalaya dengan menggunakan mobil, berkonvoi. Perjalanan ditempuh kurang lebih sekitar 4-5 jam, pokoknya seingatku sampai ke Tasikmalaya itu sore hari. Sesampainya di rumahku yaitu di Perum Tamansari Indah Blok A No. 5 Kec. Kawalu Kota Tasikmalaya. Ternyata sudah banyak orang menanti kedatanganku, baik dari keluarga besarku, nenek, kakek, paman, bibi maupun dari para tetangga sekitar rumahku. Aku juga melihat banyak reporter TV diantaranya RCTI, SCTV, Indosiar, TPI, TV 7 dan lain-lain yang tengah bersiap meliputku. Aku merasa pada saat itu disambut bagai seorang public figure, begitu aku keluar dari mobil, tak henti-hentinya orang disekitarku langsung mencium dan memelukku. Aku langsung menuju ke ruang tamu rumahku dengan didampingi oleh keluarga besar dan rombongan dari Jakarta untuk sedikit diwawancara oleh para reporter. Aku ingat bahwa pada saat itu aku tidak banyak berbicara dan aku lebih banyak diam saja sambil sibuk sendiri dengan mainan gameboyku. Karena jujur, apa sih yang diharapkan keluar dari mulut seorang bocah kelas 4 SD berumur 9 tahun, yang masih shock berat pada saat itu. Untungnya reporter yang bertanya tidak terlalu menekanku, dari pihak keluarga, serta rekan hakim kerabat ayahku lah yang lebih banyak membantu menjawab. Setelah semuanya selesai, aku pun langsung beristirahat. Keesokan harinya, teman-teman ayahku maupun para tamu yang sekedar ingin mengetahui aku/belum melihatku silih berganti berdatangan ke rumahku. Aku yang pada saat masih dalam kondisi lemah mau tidak mau harus menerima tamu-tamu itu satu per satu. Singkat cerita, 2 – 3 minggu berlalu sejak peristiwa gempa dan tsunami melanda banda aceh, aku masih tidak tahu keberadaan ayah, ibu dan adikku, yang aku tahu hanya perkataan si “bapak” waktu di pengungsian rumah lantai 2 itu yang mengatakan bahwa mereka selamat, sehingga aku pun berkeyakinan bahwa ayah, ibu dan adikku juga selamat namun belum ditemukan saja. Selama aku di rumah pun oleh nenek, kakek, paman, bibi selalu ditanya “ai papah, mamah, adek dimana?” aku dengan yakin selalu menjawab “selamat kok, kata si “bapak” itu juga lihat selamat” mereka pun lantas tersenyum sambil mengusap-usap kepalaku. Selama menunggu kepastian kabar itu, di dalam lelap tidurku aku selalu bermimpi mengenai kejadian itu, salah satunya yang masih kuingat jelas mimpinya kurang lebih seperti ini “aku sedang berada di dalam rumahku yang di Tasikmalaya, kemudian tiba-tiba dari depan rumah terdengar ada yang mengetuk pintu, kemudian aku pun langsung bergegas membukakan pintu dan ternyata itu adalah……..ayah, ibu dan adikku sedang berdiri tanpa ekspresi dengan memakai pakaian yang lusuh, walaupun keadaan begitu aku merasa senang sekali karena akhirnya mereka selamat dan telah pulang ke rumah” aku pun langsung berteriak memanggil kakakku namun ketika berteriak tiba-tiba aku terbangun dari tidurku dan dikasih tahu kakakku bahwa aku mengigau. Awalnya aku cukup sering bermimpi hal-hal seperti itu dan aku selalu cerita apa yang kumimpikan karena ibu dari ayahku selalu bertanya dan berpesan “Adink suka mimpiin papah, mamah engga? kalau suka mimpiin kasih tahu emih terus adink sing rajin sholat, doakeun papah, mamah” Aku pun tidak pernah menutup-nutupi dan selalu bilang sejujurnya apa yang kualami. Selanjutnya, kalau aku tidak salah ingat di pertengahan bulan Januari 2005, akibat aku sering bermimpi tentang ayah, ibu dan adikku akhirnya aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada ayah, ibu dan adikku tersebut.

Pada saat itu kalau aku tidak salah ingat, aku sedang berada di dalam kamar, kemudian kakakku masuk bersama sanak keluarga lainnya, kakakku kemudian langsung memelukku dan bertanya “Yeuh ai adink percaya papah, mamah, adek teh salamet?” (adink masih percaya kalau ayah, ibu, adik selamat?”) lalu aku menjawab sama seperti sebelumnya yaitu “masih percaya selamat” Kakakku kemudian menatapku sambil mengatakan “yeuh sing sabar nya, sebenerna papah, mamah sareng imel teh tos teu aya” (Yang sabar ya, sebenarnya ayah, ibu sama adek udah meninggal dunia), aku pun seketika itu langsung terdiam seribu bahasa, namun kakakku masih terus berbicara dan bilang “sing sabar, ikhlas, tawakal nya, keun ayeuna mah masing tos teu aya si papah, mamah, imel oge masih keneh aya aa, tuh seer aya emih, enin, aki sareng keluarga saudara si papah mamah sadaya nu ngurus adink” (yang sabar, ikhlas, tawakal ya, walaupun ayah, ibu, adik udah meninggal dunia, tapi masih ada kakak, terus emih, nenek, kakek, semua saudara ayah dan ibu yang mengurus adink) Aku dengan tanpa ekspresi kemudian bilang “Muhun” dan tidak menangis sama sekali. Berdasarkan laporan yang ditulis oleh bapak Gunawan, salah satu kerabat hakim sewaktu bertugas di Pengadilan Negeri Banda Aceh mengatakan bahwa Ayah, ibu dan adikku telah diketemukan meninggal dunia pada hari Rabu, tanggal 29 Desember 2004 di lokasi yang berbeda-beda, aku lupa letak posisi jelasnya, namun yang pasti mereka semua ditemukan dalam kondisi yang sudah membusuk. Ternyata dibalik itu, kakakku dan semua keluarga ayah dan ibuku sudah mengetahui dari jauh-jauh hari informasi mengenai meninggalnya ayah, ibu dan adikku itu, setelahnya mereka sepakat untuk tidak memberitahuku terlebih dahulu karena takutnya aku shock dan sedih apalagi pada saat itu aku masih kecil dan berkeyakinan bahwa ayah, ibu dan adikku itu selamat. Namun, dengan berbagai pendekatan yang dilakukan oleh kakak dan keluargaku lainnya akhirnya di momen yang tepat, kabar itu diinformasikan juga kepadaku. Hebatnya pada saat itu aku tidak menangis sama sekali, seolah-olah aku sudah benar-benar mengikhlaskan takdir tuhan tersebut.

CHAPTER V
LIFE MUST GO ON

Aku, Nugraha Adi Permana (9th) dan kakakku, Fajar Destra Prayoga (15th) akhirnya resmi menyandang predikat sebagai “Anak Yatim Piatu” di usia yang masih sangat muda. Aku meyakini bahwa ini adalah takdir dan jalan hidupku, harus siap menjalani kegiatan sehari-hari tanpa kasih sayang dan bimbingan dari kedua orang tua. Aku mungkin bisa dikatakan lebih beruntung daripada anak-anak yang sejak lahir telah menjadi “yatim piatu”, namun kupikir yang berbeda hanya waktu saja, karena ketika dia sudah menjadi “yatim piatu” maka derajatnya akan sama baik aku maupun dia yang terlahir sudah “yatim piatu”. Tidak mudah memang awalnya, namun kami beruntung senantiasa mendapatkan support baik dari keluarga ayah, ibu, tetangga sekitar rumah, maupun rekan-rekan seprofesi alm. ayahku. Aku pun memulai lembar kehidupan baru tanpa kedua orang tua, saudara-saudara ayah dan ibuku telah kembali ke kota asal masing-masing. Untuk masalah keuangan selain telah mendapat bantuan materil aku dan kakakku juga mendapatkan uang pensiunan hakim ayahku, sehingga setiap bulan kami mendapatkan setengah gaji dari apa yang biasa alm. ayahku terima. Aku kemudian melanjutkan sekolah di SDN Pajajaran, sekolah lamaku sebelum pindah ke Banda Aceh. Aku tinggal bersama kakakku, emih (ibu dari alm ayahku) dan keluarga Asisten Rumah Tangga sampai aku lulus SD. Aku melanjutkan sekolah ke SMPN 2 Kota Tasikmalaya, di sisi lain Kakakku yang juga sudah lulus SMA melanjutkan kuliah ke Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung. Sedangkan emih (ibu dari alm ayahku) yang mulai sakit-sakitan pulang ke kota asal di Serang, Banten. Awalnya emih ingin mengajakku sekolah di Serang namun aku bersikukuh ingin tetap sekolah di Tasikmalaya. Kemudian, sang Asisten Rumah Tanggaku kemungkinan sudah mulai jenuh tinggal bersamaku sehingga beliau memutuskan untuk berpisah rumah, mengingat beliau juga sudah memiliki keluarga, namun tetap kami saling bersilaturahmi hingga saat ini. Akhirnya di mulai tahun 2010 aku hanya tinggal berdua saja bersama kakakku di Perum Tamansari Indah, Kota Tasikmalaya. Tahun 2010 aku lulus SMP dan melanjutkan sekolah di bekas sekolah kakakku dulu yaitu di SMAN 8 Tasikmalaya. Tahun 2013 aku lulus SMA dan melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya, selain itu di tahun yang sama kakakku juga mulai bekerja di Pengadilan Negeri Tasikmalaya. Akhirnya, pada tanggal 24 Februari tahun 2018 aku pun lulus kuliah strata 1 ku dan berhak mendapatkan gelar S.H. (Sarjana Hukum).

EPILOGUE :

Tanggal 26 Desember di tahun 2018 ini, masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Aceh maupun keluarga korban yang telah ditinggalkan memperingati 14 Tahun Bencana Alam Gempa dan Tsunami tersebut. Aku yang sama sekali belum pernah kembali lagi ke Aceh sejak kejadian itu, berkeinginan suatu saat nanti mendapat kesempatan untuk pergi ke Aceh melihat situasi dan kondisi sekarang serta tentunya mengenang tempat tinggalku dulu. Begitu juga dengan keluarga Bapak Yapi yang telah banyak berjasa atas keselamatanku, aku juga belum pernah bertemu kembali, semoga dikemudian hari aku dapat bertemu dengan mereka. Akibat bencana ini juga secara langsung mengubah sistem penanggulangan bencana alam di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan Sosialisasi Gempa dan Tsunami. Alat-alat peringatan dini Tsunami setelah gempa terjadi telah terpasang di berbagai pantai di wilayah Indonesia, begitu juga dengan jalur evakuasi yang telah dibentuk. Di sisi lain kemajuan teknologi pun turut serta membantu agar informasi tanggap darurat tersebut dapat cepat sampai ke masyarakat dan pada akhirnya diharapkan apabila terjadi bencana serupa masyarakat dapat segera melarikan diri menjauh dari pantai/laut sehingga dapat menekan korban jiwa seminimal mungkin. Selain itu, mengingat negara Indonesia ini berada di wilayah yang rawan terkena bencana alam khususnya gempa dan Tsunami maka pendidikan wajib mengenai bencana alam di sekolah pun harus segera direalisasikan pada anak sedini mungkin agar mereka tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana alam terjadi. Hal ini berbeda ketika pada saat Gempa dan Tsunami aceh tahun 2004 yang lalu, masyarakat di sana benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sampai pada saat terjadi bencana pun sebagian besar masih berdiam di tempat, setelah gelombang tsunami terlihat baru mayoritas dari mereka melarikan diri. Akibatnya karena tidak sigap dalam menghadapi bencana alam tersebut, korban jiwa yang meninggal pada saat itu mencapai sekitar 170.000 jiwa lebih di Aceh dan Sekitar 250.000 orang di 13 negara yang tewas. Bencana terjadi setelah gempa berkekuatan 9,1-9,3 skala richter berpusat di kawasan Samudra Hindia yang disusul dengan gelombang tsunami setinggi 30 Meter/100 feet. (sumber : wikipedia)

Akibat dari bencana alam yang kualami tersebut secara tidak langsung telah membentuk sebagian besar watak dan kepribadianku, terutama pembelajaran mengenai keikhlasan dan kehidupan. Ya, banyak cobaan kehidupan yang telah aku dapatkan dan salah satunya yang paling besar adalah ditinggal selamanya oleh kedua orangtuaku disaat aku masih berusia 9 Tahun. Awalnya pasti sedih, wajar manusiawi. Namun seiring dengan berjalannya waktu aku menyadari bahwa terus menerus larut dan menyesal dalam kesedihan itu tidak ada gunanya, malah bisa bikin kita cape/sakit. Jangan pernah menyesali segala sesuatu yang telah terjadi, apalagi menyesali orang yang sudah meninggal dunia, karena mau sampai air mata kita habis pun secara nalar logika orang itu tidak akan hidup lagi. Setelah itu, aku hanya meyakini bahwa inilah takdirku, inilah jalan hidupku, dan tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada kita kalau tidak ada alasan dan hikmah dibaliknya. Lalu, bagaimana caranya kita mengetahui alasan tuhan memberikan kita cobaan dan apa pula hikmahnya dibalik itu semua? caraku cuma 1 (satu), yaitu INTROSPEKSI DIRI. Momennya bisa kapan saja, namun kalau aku biasanya ketika selesai melaksanakan solat atau sedang berdiam diri, merenung memikirkan kenapa aku diberikan ujian/cobaan ini “oh mungkin karena aku melakukan kesalahan”, “oh mungkin karena aku nakal”, “oh mungkin karena aku menyakiti hati orang lain”, “oh mungkin karena aku tidak rajin solat”, “oh mungkin karena aku tidak menuruti perintah orang tua” dan lain-lain. Setelah aku renungkan seperti itu, ujian/cobaan dari tuhan pun perlahan bisa aku ikhlaskan lilahitaala. Hikmahnya dibalik setiap ujian/cobaan dari tuhan pun secara garis besar cuma 1 (satu) juga, yaitu “Supaya hidup kita kedepannya menjadi lebih baik”. Berbagai kesalahan yang telah kita renungkan tersebut kemudian diperbaiki, apa yang kurang dari diri kita kemudian ditingkatkan.

Akhir kata tak terasa sekarang kita berada di penghujung tahun 2018, mari kita sekarang sama-sama mulai merenungkan apa yang telah kita dapatkan di tahun ini, perbaiki yang salah, pertahankan yang baik, yang belum cukup baik segera ditingkatkan. Tetap semangat menjalani hidup, don’t look back because life must go on, We have to carry on Our lives are going on. Aku teringat sepenggal lirik lagu dari band One Ok Rock berjudul C.h.a.o.s.m.y.t.h. yang menurutku sangat bagus untuk direnungkan supaya kita tetap semangat yaitu “Dream as if you will live forever And live as if you’ll die today” karena jika dikaitkan dengan kepercayaanku dikatakan bahwa takdir rezeki, Jodoh, maut itu adalah misteri tuhan dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, sehingga alangkah baiknya kita harus memberikan yang terbaik setiap harinya. Pesanku juga untuk teman-teman, saudaraku semua teruslah mempunyai mimpi dan harapan, selalu tebar kebaikan, kebahagian, Open minded jangan mudah terprovokasi, stop sebar hoax serta kebencian. Salam damai dan sejahtera untuk kita semua. Terima kasih telah membaca hingga selesai dan kalau merasa tulisanku ini bermanfaat, jangan lupa share juga ke teman-teman kalian, semoga dapat memberikan inspirasi bagi pembaca sekalian.

5c21c9784472a-peringatan-14-tahun-tsunami-aceh_665_374
Photo : VIVA/Dani Randi

“BEHIND EVERY SMILE, THERE’S STORY OF PERSONAL STRUGGLE”

Catatan :
– 
Cerita ini 100% ASLI/NYATA pengalaman penulis ketika masih kecil.
–  Ada beberapa timeline/waktu/jam peristiwa yang mungkin miss, atau terbalik namun secara garis besar kurang lebih gambarannya seperti itu.
– Terima kasih kepada semua pihak yang telah berjasa dalam kehidupanku hingga saat ini.